March 28, 2006

Mentalitas Wirausahawan

Oleh Lilly H. Setiono

Selama tahun 2002 ini, kondisi negara kita di berbagai bidang tidak menunjukkan perubahan berarti. Kebijakan pemerintah masih simpang siur, hukum semakin tidak jelas, dan kondisi sosial kian tidak menentu. Di bidang ekonomi, tidak ada perubahan kearah yang lebih baik. PHK tetap berlangsung karena banyak wirausahawan tidak lagi berminat memulai atau mengembangkan usahanya dan para investor asing sudah banyak yang memutuskan untuk memindahkan usahanya ke negara lain yang lebih menjanjikan.

Di sisi lain, jumlah populasi dengan usia produktif tidak bisa begitu saja menganggur. Hidup tetap harus berjalan dan penghasilan tetap mesti dicari untuk menutupi biaya hidup yang kian mahal. Berbagai ide bisnis bermunculan dan di diskusikan dalam berbagai pertemuan baik formal maupun informal. Sebagian ide tersebut memang hanya merupakan "mimpi yang indah" tetapi sebagian lagi ditanggapi dengan antusiasme yang tinggi. Dari hal ini terlihat bahwa masyarakat kita justru merasa terpacu ketika dihadapkan pada suatu krisis yang berkepanjangan. Hal ini senada dengan pendapat yang dikemukakan Ralph Stacey (1997) dalam tulisannya berjudul "Excitement and Tension at the Edge of Chaos" yang mengatakan bahwa kreativitas cenderung meningkat pada saat situasi semakin parah, atau sering disebut dengan istilah populernya "kreatif karena kepepet". Jika asumsi Stacey ini benar, sangat mungkin "mimpi-mimpi indah" itu sudah ada di benak banyak sekali penduduk Indonesia yang secara kreatif dan positif menginginkan perubahan.

Masalahnya sekarang, bagaimanakah mewujudkan jutaan mimpi indah itu menjadi kenyataan? Apa saja faktor-faktor psikologis yang harus dimiliki sang wirausaha sehingga dapat mewujudkan mimpi indahnya tersebut? Artikel ini ditulis dengan harapan dapat inspirasi bagi para pemilik mimpi indah supaya mereka bisa mempersiapkan diri dalam usaha mereka membuat mimpi itu menjadi kenyataan.



Beberapa Alternatif

Bagi orang-orang yang memiliki "mimpi-mimpi indah", ada beberapa alternatif yang dapat dipilih untuk mewujudkan mimpi tersebut. Beberapa alternatif tersebut diantaranya:



1. Menjadi wirausahawan mandiri

Untuk menjadi seorang wirausahawan mandiri, berbagai jenis modal mesti dimiliki. Ada 3 jenis modal utama yang menjadi syarat: (1) sumber daya internal yang merupakan bagian dari pribadi calon wirausahawan misalnya kepintaran, ketrampilan, kemampuan menganalisa dan menghitung risiko, keberanian atau visi jauh ke depan. (2) sumber daya eksternal, misalnya uang yang cukup untuk membiayai modal usaha dan modal kerja, social network dan jalur demand/supply, dan lain sebagainya. (3) faktor X, misalnya kesempatan dan keberuntungan. Seorang calon usahawan harus menghitung dengan seksama apakah ke-3 sumber daya ini ia miliki sebagai modal. Jika faktor-faktor itu dimilikinya, maka ia akan merasa optimis dan keputusan untuk membuat mimpi itu menjadi tunas-tunas kenyataan sebagai wirausahawan mandiri boleh mulai dipertimbangkan.

2. Mencari mitra dengan "mimpi" serupa.

Jika 1 atau 2 jenis sumber daya tidak dimiliki, seorang calon wirausahawan bisa mencari partner/rekanan untuk membuat mimpi-mimpi itu jadi kenyataan. Rekanan yang ideal adalah rekanan yang memiliki sumber daya yang tidak dimilikinya sendiri sehingga ada keseimbangan "modal/sumber daya" di antara mereka. Umumnya kerabat dan teman dekatlah yang dijadikan prospective partner yang utama sebelum mempertimbangkan pihak lainnya, seperti beberapa jenis institusi finansial diantaranya bank.

Pilihan jenis mitra memiliki resiko tersendiri. Resiko terbesar yang harus dihadapi ketika berpartner dengan teman dekat adalah dipertaruhkannya persahabatan demi bisnis. Tidak sedikit keputusan bisnis mesti dibuat dengan profesionalisme tinggi dan menyebabkan persahabatan menjadi retak atau bahkan rusak. Jenis mitra bisnis lainnya adalah anggota keluarga; risiko yang dihadapi tidak banyak berbeda dengan teman dekat. Namun, bukan berarti bermitra dengan mereka tidak dapat dilakukan. Satu hal yang penting adalah memperhitungkan dan membicarakan semua risiko secara terbuka sebelum kerjasama bisnis dimulai sehingga jika konflik tidak dapat dihindarkan, maka sudah terbayang bagaimana cara menyelesaikannya sejak dini sebelum merusak bisnis itu sendiri.

Mitra bisnis lain yang lebih netral adalah bank atau institusi keuangan lainnya terutama jika modal menjadi masalah utama. Pinjaman pada bank dinilai lebih aman karena bank bisa membantu kita melihat secara makro apakah bisnis kita itu akan mengalami hambatan. Bank yang baik wajib melakukan inspeksi dan memeriksa studi kelayakan (feasibility study) yang kita ajukan. Penolakan dari bank dengan alasan "tidak feasible" bisa merupakan feedback yang baik, apalagi jika kita bisa mendiskusikan dengan bagian kredit bank mengenai elemen apa saja yang dinilai "tidak feasible". Bank juga bisa membantu kita untuk memantau kegiatan usaha setiap tahun dan jika memang ada kesulitan di dalam perusahaan, bank akan mempertimbangkan untuk tidak meneruskan pinjamannya. Ini merupakan "warning" dan kontrol yang bisa menyadarkan kita untuk segera berbenah. Wirausahawan yang "memaksakan" bank untuk memberi pinjaman tanpa studi kelayakan yang obyektif dan benar akhirnya sering mengalami masalah yang lebih parah. Agunan (jaminan) disita, perusahaan tidak jalan, dan hilanglah harapan untuk membuat mimpi indah menjadi kenyataan. Kejadian seperti ini sudah sangat sering terjadi, dalam skala kecil maupun skala nasional. Pinjaman seringkali melanggar perhitungan normal yang semestinya diterapkan oleh bank sehingga ketika situasi ekonomi tidak mendukung, sendi perekonomian mikro dan makro pun turut terbawa jatuh.

3. Menjual mimpi itu kepada wirausawahan lain (pemilik modal)

Jika teman atau kerabat yang bisa diajak bekerjasama tidak tersedia (entah karena kita lebih menghargai hubungan kekerabatan atau persahabatan atau karena memang mereka tidak dalam posisi untuk membantu) dan tidak ada agunan yang bisa dijadikan jaminan untuk memulai usaha anda, ada cara lain yang lebih drastis, yaitu menjual ide atau mimpi indah itu kepada pemilik modal. Kesepakatan mengenai bagaimana bentuk kerjasama bisa di lakukan antara si pemilik modal dan penjual ide. Bisa saja pemilik modal yang memodali dan penjual ide yang menjalankan usaha itu, bisa juga penjual ide hanya menjual idenya dan tidak lagi terlibat dalam usaha itu. Jalan ini biasanya diambil sesudah cara lainnya tidak lagi memungkinkan sedangkan ide yang kita miliki memang sangat layak diperhitungkan.

Ketiga cara di atas selayaknya dipikirkan sebelum seseorang mengambil keputusan untuk menjadi wirausahawan. Tanpa pemikiran mendalam, pengalaman pahit akan menjadi makanan kita. Banyak usaha yang akhirnya gulung tikar sebelum berkembang. Contohnya, pada tahun 1998, penduduk Jakarta tentu masih ingat akan trend "kafe tenda" sebagai reaksi atas Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) yang saat itu banyak terjadi. Tiba-tiba saja banyak mantan karyawan perusahaan beralih profesi menjadi wirausahawan. Bahkan usaha tersebut ramai-ramai diikuti oleh pula oleh para selebritis. Trend ini tidak mampu bertahan lama. Banyak "usaha dadakan" ini terpaksa gulung tikar. Entah kemana para wirausahawan baru kita ini akhirnya menggantungkan nasibnya sekarang.


Mentalitas Wirausahawan: Mitos atau Realita?

Untuk mewujudkan mimpi menjadi seorang wirausahawan yang sukses memang diperlukan berbagai faktor pendukung. Selain modal (sumber daya seperti tersebut di atas), masih ada faktor lain yang merupakan syarat untuk keberhasilan seorang wirausahawan. Banyak yang mengatakan "mental" atau "bakat"; dalam bahasa umum "bakat dagang", merupakan salah satu diantara faktor tersebut. Meskipun belum banyak penelitian ilmiah mengenai mental atau kepribadian wirausahawan, namun ada beberapa fakta maupun asumsi yang bisa menerangkan bahwa memang ada perbedaan karakter antara wirausahawan dengan non-wirausahawan. Bisa saja perbedaan itu tumbuh karena kebiasaan atau pengaruh lingkungan sehingga menjadi karakter yang menetap dalam kepribadian seseorang

Bagi pengikut aliran non-deterministic, bakat dagang mungkin lebih bisa diterima sebagai sebuah mitos, sebab sulit untuk mengatakan bahwa seorang bayi memiliki "in-born entrepreneurship trait". Lebih logis bila mengasumsikan bahwa "bakat dagang" yang dimitoskan mungkin merupakan kumpulan dari kebiasaan-kebiasaan tertentu yang dimiliki oleh wirausahawan lewat proses pembelajaran sejak dini. Kebiasaan ini disosialisasikan dan dikondisikan secara konstan kepada individu atau kelompok tertentu sehingga menjadi ciri karakter yang kuat dan mengakar di dalam mereka. Sebagian dari kebiasaan itu adalah:

· menghitung untung rugi setiap tindakan/keputusan yang diambil
· melihat peluang dan menganalisis kebutuhan pasar
· mengelola sumber daya (planning, organizing, directing, controlling)
· bekerja keras secara konstan dan mencari solusi bagi masalahnya
· kebiasaan "jatuh-bangun" sehingga tidak lagi takut membuat keputusan

Selain faktor kebiasaan di atas, masih banyak faktor lain yang turut menentukan apakah seseorang bisa menjadi seorang wirausahawan yang sukses. Beberapa di antaranya adalah:

1. Kreatif & Inovatif

Seorang wirausahawan umumnya memiliki daya kreasi dan inovasi yang lebih dari non-wirausahawan. Hal-hal yang belum terpikirkan oleh orang lain sudah terpikirkan olehnya dan dia mampu membuat hasil inovasinya itu menjadi "demand". Contohnya: Menjelang tahun 2000, ada sekelompok orang yang menjadi "kaya raya" karena mereka berhasil menjual ide "the millenium bug". Puluhan juta dollar bergulir di industri komputer dan teknologi hanya karena ide ini. Software baru, jasa konsultasi teknologi komputer bahkan Hollywood pun berhasil membuat ide ini menjadi industri hiburan yang menghasilkan puluhan juta dollar. Film "The Entrapment" adalah salah satu hasilnya. Contoh lainnya yang sederhana adalah pengemasan air minum steril kedalam botol sehingga air bisa diminum langsung tanpa dimasak. Banyak sekali contoh lain yang menunjukkan bahwa kreatifitas dan inovasi adalah salah satu faktor yang bisa membawa seseorang menjadi wirausahawan sukses. Perlu diingat bahwa kreatifitas dan inovasi bukan merupakan satu-satunya faktor penentu karena artispun harus memiliki kedua faktor ini sebagai penentu kesuksesannya.

2. Confident, Tegar dan Ulet

Wirausahawan yang berhasil umumnya memiliki rasa percaya diri yang tinggi, tegar dan sangat ulet. Ia tidak mudah putus asa, bahkan mungkin tidak pernah putus asa. Masalah akan dihadapinya dan bukan dihindari. Jika ia membuat salah perhitungan, saat ia sadar akan kesalahannya, ia secara otomatis juga memikirkan cara untuk membayar kesalahan itu atau membuatnya menjadi keuntungan. Ia tidak akan berhenti memikirkan jalan keluar walaupun bagi orang lain, jalan keluar sudah buntu. Kegagalan akan dibuatnya menjadi pelajaran dan pengalaman yang mahal. Semangatnya tidak pernah luntur; ada saja yang membuatnya bisa berpikir positif demi keuntungan yang dikejarnya. Kualitas kepribadian seperti ini tidak mungkin tumbuh secara mendadak. Keuletan, ketegaran dan rasa percaya diri tumbuh sejak dini (usia balita) dan sudah menjadi karakter atau dasar kepribadiannya. Sulit (bukan tidak mungkin) bagi seorang dewasa membentuk kualitas-kualitas ini jika tidak dimulai sejak masa balita.

3. Pekerja Keras

Waktu kerja bagi seorang wirausahawan tidak ditentukan oleh jam kerja. Saat ia sadar dari bangun tidurnya, pikirannya sudah bekerja membuat rencana, menyusun strategi atau memecahkan masalah. Kadang dalam tidurnyapun ia tetap berpikir. Membiarkan waktu berlalu tanpa ada yang dipikirkan atau dikerjakan kadang membuatnya merasa "tidak produktif" atau merasa kehilangan kesempatan.

4. Pola Pikir Multi-tasking

Seorang wirausahawan sejati mampu melihat sesuatu dalam perspektif/dimensi yang berlainan pada satu waktu (multi-dimensional information processing capacity). Bahkan ia juga mampu melakukan "multi-tasking" (melakukan beberapa hal sekaligus). Kemampuan inilah yang membuatnya piawai dalam menangani berbagai persoalan yang dihadapi oleh perusahaan. Semakin tinggi kemampuan seorang wirausahawan dalam multi-tasking, semakin besar pula kemungkinan untuk mengolah peluang menjadi sumber daya produktif.

5. Mampu Menahan Nafsu untuk Cepat Menjadi Kaya

Wirausahawan yang bijak biasanya hemat dan sangat berhati-hati dalam menggunakan uangnya terutama jika ia dalam tahap awal usahanya. Setiap pengeluaran untuk keperluan pribadi dipikirkannya secara serius sebab ia sadar bahwa sewaktu-waktu uang yang ada akan diperlukan untuk modal usaha atau modal kerja. Keuntungan tidak selalu menetap, kadang ia harus merugi dan perusahaan harus tetap dipertahankan. Oleh sebab itu, jika ia memiliki keuntungan 10, hanya sepersekian yang digunakan untuk keperluan pribadinya. Sebagian besar disimpannya untuk digunakan bagi kemajuan usahanya atau untuk tabungan jika ia terpaksa mengalami kerugian.

Wirausahawan yang bijak juga mengerti bahwa membangun sebuah perusahaan yang kokoh dan mapan memerlukan waktu bertahun-tahun bahkan tidak jarang belasan atau puluhan tahun. Seorang wirausahawan yang memulai usahanya dari skala yang kecil hingga menjadi besar akan mampu menahan nafsu konsumtifnya. Baginya, pengeluaran yang tidak menghasilkan akan dianggap sebagai sebuah kemewahan. Jika tabungannya tidak cukup untuk membeli kemewahan itu, dia akan menahan diri sampai tabungannya jauh berlebih. Ia juga menghargai keuntungan yang sedikit demi sedikit dikumpulkannya. Keuntungan itu diinvestasikannya ke dalam usaha lainnya sehingga lama-kelamaan hartanya bertambah banyak. Dalam hal ini memang ada benarnya pepatah yang mengatakan: "hemat pangkal kaya".

Sebaliknya, wirausahawan yang tidak bijak seringkali tidak dapat menahan nafsu konsumtif. Keuntungan dihabiskan untuk berbagai jenis kemewahan dan hal yang tidak produktif sehingga tidak ada lagi tabungan untuk perluasan perusahaan atau untuk bertahan pada masa sulit. Perusahaanpun tidak lama bertahan.

6. Berani mengambil risiko

Seorang wirausahawan berani mengambil risiko. Semakin besar risiko yang diambilnya, semakin besar pula kesempatan untuk meraih keuntungan karena jumlah pemain semakin sedikit. Tentunya, risiko-risiko ini sudah harus diperhitungkan terlebih dahulu. (Lihat artikel: Risiko-Risiko Pengembangan Bisnis)

7. Faktor Lainnya

Masih banyak lagi faktor yang belum terungkap dalam artikel ini. Saya berharap para pembaca yang memiliki pengalaman lain mau membagikan pengalamannya agar dapat menjadi inspirasi bagi calon-calon wirausahawan baru. Negara kita memang sedang membutuhkan wirausahawan baru untuk membangun kembali ekonomi yang morat-marit ini.

Bagi mereka yang sudah memiliki ide dan mimpi indah, cobalah mulai berhitung. Siapa tahu anda sudah memiliki banyak faktor yang disebutkan di atas dan anda tinggal mengatakan pada diri anda:"Just try it". Bagi anda yang merasa bahwa dunia wirausaha bukan dunia anda, jangan kecil hati..sebab anda masih bebas bermimpi. Selain mimpi itu gratis, segala sesuatu yang baru selalu dimulai dari mimpi indah. "Selamat bermimpi". (jp)

March 26, 2006

WISE WORDS & POEMS FOR MY COMRADES IN BATTLE

Find Me the Way

Find me the way to guide the spirit away from the day
light me the torch to go back many decades to find you
wheter the sky is dark blue or just simply burnt red
some of us not resting quite well
so shoot me down to the land of pain
where each man tortured as a lamb
and the dirt is so thick even cat fall to the hole
so where should i land my feet to get start?
find me the city where once i've built my self
make my community in shallow thought
in which all eyes sorounded me in sort of ways
and feed me with sight and hearing
the seed that grow inside of me have all been licked out ?
so where does it lays now?
even in my journey to the bone still i cant taste the sweet
i must rerun my live..rearrange my memories to put you up high
and if i ever come back to you
to low now
find me the name that could replace the pain you bring
in such ways all the pain reorganize in form of heavy energy
fly away to the sun surface
there lies the clue to all misteries of my life
the guides to the past
a book for the future
and dark cloud of night that shivering..shining blurry
where do i stand.. in the sheet of empty matrix

find me my memories of the past
in where your face hang smille and your touch all over me
in which your sound awake my spirit high
so i could estrange my self up
and fly to the moon..to the milky way
find me my face ..find me my name
when i could not hate my self

Help Me

Hey mister could you give me a ride to heaven?
i bored of waiting in hope
what tomorow bring ? when you offered me much drink
look at those prety girls in those nice silk, they sing and dance
i want to be a dancer just like bird in the glance

hey mister please don't stop talking to me
i want you to help me out from here, i want to be free
just like you ,being the centre of universe
and if i should running with these bare feet
you could draw me a path in these blank sheet
but mister what would you over to me next to these wine
please don't smoke me up in the dust

hey mister, we could paint a mountain in thousand colour
we could drawn in the ocean of words
could i believe in you ?, cause i don't believe in anything
i want to be painted grey
felt so simbolic yesterday
look at us so great in the conversation
even if the colour would melt and the mountain would freeze
we will never fall down

hey mister, they talking bout us in their sleep
and if you felt it's not disturbing, i would love to stay and cheers
we all want to be a stars..we don't know how..and we don't know why
someday every body loves me.. and i'll be as happy as i wanna be

The Real of Memory

Time that was passing over
When everything don't make real there was only dream
For Life and love when something to hopeless
Only smile your face in my dream and nothing I reach
Misty in my arm and sorrow broked feel everytime
When I knew about the nexttime in my life
So I am catch a feel good , who make nothing uncertainly
For the time only soul will great to ease the pain
And memory by time maybe not diappear
Feel do not make something good, if I think only breath
nothing a spirit to get, only dream and suggested
Love as a flower that will be withered and maybe couldn't grow again
Only dream in my memory I felt, and only compaction in my life
The real of memory, I think of you always remember it
A blame maked timidity and dark

Wise Words

1. A person needs just 3 things: someone to love, something to do, and something to hope for
2. A sweet first meeting opened up two people’s heart, love did the rest
3. Having a person to understand is better than many others who leave in hard condition
4. Learn from yesterday, do your best today, plan for a better tomorrow
5. Life will so beautiful with a right person to share with
6. Love is so unpredictable, don’t try to plan it, just surf inside
7. Love may be blind, but can see in dark
8. Love will find its own way even in the dark
9. Make hopes as long as you can, cause your life will mean nothing when you stop hopping
10. May today be just the beginning of many wonderful days to come
11. No words can exactly describe what love is, hearts just know
12. Somethings are better left unsaid, don’t call them secrets, those are understanding
13. The true beauty is not how your skin looks like, true beauty is what inside you
14. There’s only one single thin line between love and hate
15. Trust your heart, and it will guide you to face this life
16. True love is forever, it can feel no hurts, no pain, and full of forgiveness
17. What night is night without a love inside, what day is day without a love beside
18. You wouldn’t know what life is before you fall deeply in love

March 25, 2006

Dongeng Cinta

Suatu ketika terdapat sebuah pulau tempat tinggal seluruh perasaan: Kebahagiaan, Kesedihan, Pengetahuan dan masih banyak lagi yang lain, termasuk diantaranya Cinta. Suatu hari diumumkan kepada seluruh perasaan bahwa pulau tersebut tidak lama lagi akan tenggelam,sehingga seluruh perasaan yang ada segera mempersiapkan perahunya untuk pergi.

Cinta ingin terus bertahan hingga detik terakhir. Saat pulau hampir tenggelam barulah Cinta berpikir untuk minta bantuan. Kekayaan lewat didepannya dengan kapalnya yang megah, Cinta berkata,"Kekayaan bolehkah aku pergi bersamamu?" Kekayaan menjawab," Tidak bisa, kapalku penuh dengan emas permata, tidak ada lagi ruang yang tersisa."

Cinta memutuskan untuk bertanya kepada Kesombongan yang melewatinya dengan kapalnya yang indah." Kesombongan, tolong selamatkan aku!" "Cintaku sayang, aku tidak bisa membantumu. Kamu basah sekali, nanti merusak kapalku yang indah.

Kesedihan tampak berlayar di dekat pulau. Cinta pun berteriak, "Kesedihan izinkan aku pergi bersamamu." "Aduh.....Cinta, aku terlalu sedih. Sekarang aku hanya ingin menyendiri, kamu tidak bisa ikut denganku."

Setelah beberapa saat, Kebahagiaan tampak di kejauhan, tetapi dia terlalu bahagia sehingga tidak mendengar saat Cinta memanggilnya. Tiba-tiba terdengar suara "Cinta ikutlah denganku." Muncullah sosok tua dengan kapalnya yang tidak kalah tua namun berkesan agung dan anggun berwibawa. Cinta merasa sangat bersyukur, langsung naik ke kapal. Akibat terlalu girang bisa selamat dari Pulau Perasaan yang tenggelam, saat mencapai daratan kering, Cinta lupa menanyakan sosok tersebut hingga sosok tua itu hilang menjauh ditelan cakrawala, melanjutkan perjalanannya.

Sadar betapa besar utang budinya kepada sosok tua tersebut, Cinta pun bertanya kepada Pengetahuan, sesepuh para perasaan yang ditemuinya di pulau itu." Siapakah yang telah menolongku?" " Dia adalah Waktu," jawab Pengetahuan. "Waktu?" tanya Cinta tak percaya" Tapi mengapa Waktu bersedia menolongku?" Pengetahuan tersenyum bijak dan menjawab. "Karena hanya Waktu yang dapat memahami betapa besar arti sebuah Cinta."

March 19, 2006

Intrik - Terbalik

SALAH satu kredo yang selalu saya promosikan secara gencar sejak setahun lalu adalah mengajak orang untuk berani berpikir terbalik. ''Reverse thinking'' atau berpikir terbalik bukanlah teknik berpikir yang baru. Sudah lama dipraktekkan para inovator dan kaum pemikir. Tujuannya semata untuk mencari terobosan baru. Sederhana saja.

Minggu lalu, dalam sebuah diskusi entrepreneur, seorang peserta bertanya, ''Kalau begitu, sukses brownies kukus Amanda itu adalah brownies yang dikukus atau bolu kukus yang di-brownies-kan?'' Ini pertanyaan yang unik. Sebab, menurut cerita, resep asli yang diperoleh Ibu Sugeng pada 1999 dari adiknya di Yogya memang resep bolu kukus. Resep inilah yang kemudian dikembangkan dan disempurnakan menjadi produk andalan brownies kukus Amanda yang saat ini sangat terkenal.

Mungkin saja brownies kukus Amanda adalah contoh berpikir terbalik yang nyata. Andai kata dipromosikan bolu kukus brownies, mungkin konsumen tidak akan penasaran. Tapi, ketika dibalik menjadi brownies yang dikukus, benak konsumen menjadi bertanya-tanya, karena brownies yang biasanya dipanggang menjadi luar biasa dengan pakem yang menyalahi kebiasaan ini. Nah, cara berpikir terbalik atau reverse thinking ini bisa menjadi terobosan yang Anda nanti-nantikan.

Beberapa produk dunia yang menjadi tren global juga tak jarang menggunakan konsep berpikir terbalik. Ketika jam-jam digital Jepang yang sangat murah menyerang pasar global, industri jam di Swiss hampir bangkrut total. Satu perusahaan kemudian berpikir terbalik menciptakan Swatch atau Swiss Watch, yang trendi itu. Swatch tidak menjadi arloji biasa. Orang membeli Swatch bukan karena mutu Swatch sangat akurat menunjukkan waktu, melainkan semata-mata karena Swatch menjadi aksesori fashion baru. Sebuah tren baru yang bentuknya jam tangan. Tak mengherankan apabila orang kemudian mengoleksi Swatch sama seperti orang mengoleksi tas, jaket, dan sepatu.

Contoh lain diterapkan Heinz, produsen saus tomat di Amerika. Mulanya produk saus tomat mengalami kemandekan alias tidak tumbuh secara baik dari tahun ketahun. Semata-mata karena penetrasi pasar saus tomat di Amerika sudah mencapai hampir 100%. Heinz mencoba mencari sebuah solusi terobosan. Secara tradisional, kalau sampai meningkatkan pertumbuhan, Heinz harus mempromosikan orang untuk mengonsumsi lebih banyak saus tomat. Misalnya, saus tomat dijadikan saus pendamping pada makanan lain. Ini cara berpikir yang normal.

Heinz berpikir abnormal atau terbalik. Mungkinkah saus tomat dipakai untuk konsumsi yang berbeda? Dalam survei dan observasi, terutama di gerai-gerai masakan siap saji, ternyata ditemukan anak-anak yang sering menggunakan saus tomat secara berlebihan semata-mata untuk dijadikan permainan. Dengan kentang goreng, misalnya, saus tomat dicorat-coret menjadi bentuk lukisan. Lalu hal ini memotivasi cara berpikir Heinz untuk berpikir terbalik. Mengubah fungsi saus tomat.

Akhirnya Heinz mendesain ulang botol saus tomat dengan menggunakan bahan plastik dengan moncong lebih runcing, sehingga memudahkan anak-anak menggunakannya. Dengan botol ini, anak-anak menemukan saus tomat Heinz lebih asyik dipermainkan atau dijadikan alat untuk melukis. Heinz kemudian juga menciptakan saus tomat dengan warna baru, yaitu biru, hijau, dan ungu. Anak-anak merasa gembira karena punya mainan baru saus tomat aneka warna.

Ibu-ibu mulanya kesal dengan ulah Heinz ini, tapi kemudian ikut arus. Anak-anak yang susah makan menjadi lebih mudah makan karena menemukan bahwa makan bisa menjadi rekreasi baru. Celakanya, ibu-ibu yang tadinya hanya membeli satu botol saus tomat, kini harus membeli dua-tiga botol. Dalam waktu seketika, penjualan saus tomat Heinz menjadi berlipat ganda. Tumbuh lebih cepat berkat pemikiran yang tidak normal.

Ketika produsen alat-alat olahraga Puma ingin menciptakan produk-produk eksklusif, mereka juga berpikir melawan arus. Diciptakanlah serangkaian produk yang ditujukan buat eksekutif, menggunakan merek baru, ''96 hours''. Produk-produk ''96 hours'' sangat revolusioner, di mana produk Puma dijual dalam satu koper kecil praktis, yang memungkinkan seorang eksekutif berpergian selama empat hari tapi memiliki pakaian lengkap hingga sepatu lengkap. Uniknya, konsep ''96 hours'' tidak dipublikasikan secara luas, tapi dirahasiakan. Hasilnya, ''96 hours'' jauh lebih cepat terkenal dan menyebar dibandingkan apabila diiklankan. ''96 hours'' menciptakan rasa penasaran yang begitu besar di kalangan eksekutif.

Kafi Kurnia
peka@indo.net.id
[Intrik, Gatra Nomor 18 Beredar Senin, 13 Maret 2006]

March 05, 2006

Tips untuk Si Super Sibuk

Soal menghemat memang tak hanya seputar uang. Waktu pun perlu dihemat agar kegiatan kita tak boros waktu. Apalagi, jika kita harus membagi waktu antara di rumah dan di tempat kerja. Situs About memberikan salah satu paket berisi tips agar kita irit soal waktu. Mari kita simak!
  1. Menaruh barang pada tempatnya. Upaya ini memang membutuhkan tekad yang ekstra kuat agar kita disiplin menaruh barang pada tempatnya. Namun manfaatnya memang akan terasa: kita tidak perlu lagi membuang-buang waktu untuk mencari-cari kunci, mencari dokumen penting, atau membersihkan isi laci yang ternyata separuhnya berisi barang tak terpakai.
  2. Hindari saat mengantre. Bukan berarti Anda harus memotong jalur antrean, lho. Tapi saat berbelanja misalnya, pilihlah di luar jam sibuk. Hindari hari-hari padat seperti Sabtu dan Ahad, terutama pada awal bulan. Terbayang, betapa panjangnya antrean di depan kasir. Kuncinya memang terletak pada perencanaan. Berat? Cobalah dulu!
  3. Lakukan sesuatu saat antre. Jika Anda terpaksa harus mengantre misalnya membayar tagihan listrik, telepon, atau mengurus surat kendaraan, lakukan sesuatu. Misalnya membaca buku, merancang rencana, atau menulis kartu ucapan. Jadi saat hendak keluar rumah, jangan lupa membawa ''bekal''. Bisa berupa buku, atau buku notes Anda.
  4. Sekali dayung, dua tiga pulau terlampaui. Itulah pepatah untuk Anda, yang berarti mengerjakan sejumlah kegiatan yang lokasinya berdekatan dalam satu waktu.
  5. Memasak untuk beberapa hari. Anda bisa manfaatkan waktu libur untuk memasak hidangan selama beberapa hari. Bungkus masing-masing makanan untuk sekali hidang, lalu masukkan ke dalam freezer. Nanti, Anda tinggal menghangatkan. Beberapa jenis adonan kue seperti pancake bahkan bisa disimpan dalam keadaan mentah di freezer Anda.
  6. Memasak sambil mencuci. Ini ide jitu untuk Anda yang mengerjakan tugas memasak sendiri di rumah. Sambil menunggu rebusan Anda mendidih, curilah waktu untuk mencuci satu atau dua perabot Anda. Akhirnya, masakan matang, tugas mencuci pun beres. Lagi-lagi, ada waktu ekstra yang bisa Anda nikmati.
  7. Terimalah uluran tangan orang lain. Saat suami bisa mengulurkan tangan, mengapa disia-siakan? Atau Anda bisa mengajak anak-anak untuk belajar membereskan mainan mereka.
From: marketing_leadership-club@yahoogroups.com